Wednesday, March 11, 2009

Penglihatan dan Proses Bicara

Penglihatan dan Proses Bicara
Dr. Sri Wening, AIFM

Penglihatan
Anatomi Mata
Lapisan bola mata dari dalam ke luar
1. Retina, terdiri dari saraf
2. Choroid, terdiri dari pembuluh darah
3. Sclera, yang menjadi conjuctiva

Penglihatan
Mata sebagai kamera (susunan optik)
Terdiri dari
 iris sebagai diafragma,
 Cornea bersifat transparan, lensa bersifat elastis
 Humor Aqous (cairan jernih) yang terdapat pada cavity arterior dan posterior didepan lensa
 Pupil, mengatur jumlah sinar yang masuk ke dalam mata
 Lensa
 Corpus vitrues berupa jeli
 Retina tempat bayangan objek dari luar jatuh tepat pada retina disebut sel reseptor pada penglihatan, juga disebut Foto Reseptor
Optic disk yaitu tempat dimana pembuluh darah arteri vena saraf NII yang tidak ada reseptor yang disebut dengan bintik buta (blind spot)

 Vaskularisasi pada mata
Jaringan vaskuler terdiri dari :
Choroid, terdiri dari membran Bruch dan pigmen epitelium. Bagian anterior Choroid disebut korpus siliare. Jadi sistem arteri siliaris terdiri dari Choroid, corpus siliaris dan iris. Merupakan cabang dari arteri optalmica.
 Otot-otot mata
1. Otot mata intrinsik; M. Ciliare
2. Otot Ekstrincik mata; melakukan gerakan bola mata, terbagi menjadi 3 (Conjugate, Vergence, Cyclorotary). Dilakukan oleh otot ekstrincik mata (6).
 6 otot mata ekstrensik
 M. Rectus lat dan med
 M. Rectus Sup dan Inf
 M. Oblic sup dan inf ; menggerakkan bola mata sekeliling sumbu ant-post. Gangguan gerakan bola mata disebut STRABISMUS
 Persarafan mata
1. Sensorik: N. Ciliaris panjang dan pendek
2. Motorik; N.III, N.IV, N. VI bersifat Volunter. Involunter dilakukan oleh sympatik dan parasimpatik (terjadi pada M. Siliaris dan Iris)
 Kelainan refraksi (ametropia)
1. Myopi; bayangan jatuh didepan retina. Mata ini dikoreksi dengan lensa konkaf
2. Hypermetropi; bayangan jatuh di belakang retina. Mata ini dikoreksi dengan lensa konvek
3. Astigmatisme; disini terjadi kelengkungan kornea dan lensa tidak sama. Dikoreksi dengan lensa silinder dan kontak lens.
4. Presbyopi; biasanya pada usia tua (45-50th). Elastis lensa hilang karena terjadi perombakkan protein mengakibatkan lensa kaku dan susah berakomodasi. Dikoreksi dengan SPHERIS (+)
 Retina, merupakan sel reseptor penglihatan
Terdiri dari;
 Sel kerucut (CONE) untuk warna yang berarti terang.
 Batang (rod) untuk gelap.
 Retina
Ada 10 lapisan
Mempunyai 4 tipe neuron;
1. Sel Bipolar
2. Sel ganglion
3. Sel horizontal
4. Sel Amagkrin
 Retina
Akson-akson ganglion berkumpul dan meninggalkan bola mata menjadi N.II. Sel batang dan kerucut bersebelahan dengan choroid. Lapisan pigmen pada choroid mengabsorbsi sinar yang masuk sehingga reflek sinar kembali ke retina dapat dicegah
 Retina
Kutub posterior disebut pigmen kuning (Macula lutea), bagian pusatnya disebut Fofealutea yang terdapat pada sel kerucut penting dalam ketajaman penglihatan yang tinggi
 Retina
Potensial reseptor yang terdapat pada sel retina yang disebut respon lokal. Terdiri dari;
1. Hyperpolarisasi; dilakukan rod, cone, sel horizontal
2. Hyperpolarisasi + depolarisasi; dilakukan sel bipolar
3. Depolarisasi; dilakukan sel amakrin merupakan potensial aksi pada sel gangglion
 Perbedaan antara sel batang dan kerucut
Sel Batang
(Scotopic vision);
 Reseptor penglihatan gelap
 Tidak dapat melihat detail, batas objec, fotosensitif mengeluarkan rhodopsin yang terdapat pada sel batang
 Mekanisme fotoreseptor
Rangsangan cahaya disebut juga fotosensitif terhadap rod dan cone. Cahaya direabsorbsi menjadi perubahan keaktifan saraf. Fotosensitif terdiri dari protein menjadi OPSIN dan RETINEN
(aldehid vit. A)
Sel Rhodpsin berubah menjadi prelumir rhodopsin. Prelumir terbagi menjadi 2; Scotopsin dan Retinen I. secara invitro larutan rhodopsin mengabsorbsi cahaya masimal dengan panjang gelombang 505 merupakan sensitif gelap
Jadi rhodopsin pada sel batang merupakan penglihatan gelap (scotopic Visibility Curve)
Retina dan scotopsin dilepaskan menyebabkan rod terangsang merupakan implus ke SSP.
 Rhodpsin di sel kerucut
Beda dengan protein, disini disebut photopsin berperan terhadap warna (Iodopsin) dengan warna Biru (430), Hijau (535), Merah (575).
Pada panjang gelombang +/-500, ketiga cone akan terangsang.
Pada kerucut disebut Photopic Visibility Curve
 Jalur Visual/Penglihatan
1. Peristiwa terjadi di dalam bola mata; benda yang dilihat ke cornea melalui iris pergi ke Humor aqous ke lensa dan humor vitrius langsung ke retina merupakan sel reseptor penglihatan
2. Keluar dari bola mata; melalui N. II bersilang di chiasma opticum ke Tractus optic ke Corpus Geniculatum Lateralis ke Cortex Cerebri daerah BROADMAN 17
 Proses Akomodasi
Dilakukan oleh kerjasama antara;
1. M. Siliare
2. Lensa
3. Zonulas/ligamentum suspenserium
 Mekanisme
M. Siliare relaksasi maka lensanya akan Flat dan pupil akan membesar karena banyak cahaya yang masuk sedangkan ligamentum tegang (midriasis)
Kalau M. Siliare kontraksi lensa akan mencembung ruonded dan zonulas akan mengendor, pupil akan mengecil
Proses akomodasi diatur oleh susunan saraf parasimpatik
 Proses Bicara
Cortex Serebri,
dibagi 4 lobes;
1. Frontal
2. Parietal
3. Occipital
4. Temporal

 Berdasarkan fungsinya dapat dibedakan atas
Korteks serebri
 Sensory field : fungsi persepsi
(pusat sensorik)
 Motor areas : pergerakan otot rangka
 Asosiasi areas : integrasi informasi gerak volunter
Nukleus Basalis
Sistem limbik
 Amygdala : Emosi dan memori
 Hypokampus : Learning dan memori

 Organisasi fungsi kortex serebri
Lobus oksipitalis Terletak di kepala belakang, menerima prossessing input visual.
Lobus temporalis Terletak di kepala lateral, menerima sensasi suara
Lobus parietalis Pusat sensorik primer; raba, tekan, panas, dingin, nyeri permukaaan, sensasi posisi tubuh, dan propioseptik

 Organisasi fungsi kortex serebri
Lobus frontalis
Dibedakan atas 3 fungsi;
1. Aktifitas motorik volunter; merencanakan gerakan komplek dan koordinasi gerakan komplek.
2. Korteks asosiasi preprontal; perencanaan aktifitas-aktifitas volunter dan berpikir
3. Bro’ca area; korteks primer bicara yang mengontrol otot-otot artikulasi

 Organisasi fungsi kortex serebri
Wernicke’s area Wernicke’s area  Terletak antara korteks pariental, temporal, dan lobus oksipitalis Terutama kemampuan bahasa; memahami pesan bicara dan tulisan.
Wernicke’s area menerima input visual dari korteks visual lobus oksipitalis dan input suara dari korteks auditorius lobus temporalis

 Kerusakan
o broca area; Ketidak mampuan untuk memformulasikan kata-kata (ganguan bicara) penderita tetap mengerti kata-kata dan tulisan.
o Kerusakan Wernicke’s area; Penderita tidak mengerti kata-kata yang di lihat/ didengar

 Lobus Frontal
Terletak pada bagian posterior terdapat cortex motorik
Fungsi;
1. Aktifitas motorik volunter
2. Kemampuan bicara (speaking ability)
3. Elaborasi proses berpikir

 Bagian motorik Cortex Cerebre;
1. Primary cortex motorik (Br4)
2. Premotor Cortex (B6)
Keduanya melakukan pergerakan dari otot
3. Motorik pelengkap/suplemen
 1. Primary cortex motorik (Br4)
Terletak didepan sulkus sentralis, fungsi mengatur gerakan wajah, mulut dan otot-otot bicara.
 2. Premotor Cortex (B6)
Fungsinya untuk motorik spesifik yaitu dalam pembentukan KATA. Tempatnya pada daerah BROCA (Br44) terdapat pada hemisphere kanan yang dominan.
Tempatnya ini terdapat asosiasi motorik.
Kerusakan daerah broca tak mampu mengucapkan (susunan kata-kata) hanya mampu mengucapkan yang tidak terkordinasi
Pada manusia cortex cerebre berdasarkan fungsinya terdapat;
1. Pusat asosiasi
2. Pusat komunikasi
3. Pusat intelektual

 Asosiasi
Ini terdapat pada;
1. Prefrontal
2. Temporal
3. Parieto temporo oksipital; daerah ini menghubungkan daerah motorik dan sensorik. Faal daerah ini menjalankan dan mempertahankan aktifitas mental, intelektual yang tinggi seperti BAHASA, BELAJAR dan PENILAIAN.
Pertemuan asosiasi somatik visual dan dengar disebut daerah GENERAL INTERPRETATIF AREA (GNOSTIK AREA) merupakan fungsi intergrasi antara analisa, interpretasi yang merupakan fungsi intelektual.

 Komunikasi
Terdapat;
1. Aspek sensorik
Ikut serta mata dan pendengaran, Simbol bahasa yang didengar/ditulis
Kelainan yang terdapat pada aspek sensorik menimbulkan APHASIA SENSORIK (receptive aphasia). Aphasia sensorik terdiri dari;
a. Word deafnes (Kehilangan kemampuan untuk perkataan yang diucapkan), ini disebabkan asosiasi pendengaran
b. Word blindnes (ALEXIA), kehilangan kemampuan untuk mengerti perkataan yang ditulis, ini disebabkan kerusakan pada asosiasi penglihatan
c. General sensorik aphasia (wernicke aphasia=systactical aphasia) ini terjadi untuk menyusun pikiran-pikiran dan memilih kata untuk disusun dalam kalimat yang dimengerti orang

2. Aspek motorik
Simbol-simbol bahasa dengan bicara dan menulis. Kelainan pada aspek motorik;
a. Agrafia; kehilangan kemampuan utnuk menyatakan pikiran-pikiran dengan cara menulis, biasanya kerusakan pada Gyrus frontalis inferior (area 6, dan 8 bawah)
b. Motor aphasia; kehilangan kemampuan untuk bicara (kerusakan Br 44).
Menurut HEAD, aphasia terbagi menjadi 4;
1. Verbal aphasia; kerusakan Br 44
2. Syntactical aphasia; kerusakan Br 22 past posterior
3. Nominal aphasia; kerusakan pada Br 39, gyrus angularis
4. Semamtic aphasia; kerusakan Br 40, gyrus supra marginalis

 Fungsi Intelektual
Pusat ini terdapat pada manusia
1. Untuk kemampuan berkomunikasi dengan bahasa.
2. Kemampuan untuk berpikir
3. Kemampuan untuk belajar
4. Kemampuan mengingat

Histologi “INDERA PENGLIHATAN, PENDENGARAN & KESEIMBANGAN”

Histologi “INDERA PENGLIHATAN, PENDENGARAN & KESEIMBANGAN”
Marisi Siregar, MD
Rabu 10 maret 2009

ORGANA VISUS ( MATA )
Mata mempunyai sistem lensa yaitu, memfokuskan bayangan dan juga mempunyai sistem sel dan saraf yang fungsinya mengatur informasi visuil ke susunan pusat saraf.
Secara Histo Anatomi organa visus yang di bahas :
1. Bola mata (Bilbus Oculi)
2. Kelopak Mata (Palpebra)
3. Kelenjar air mata (Kel. Lakrimalis)
Bola Mata (Bulbus Oculi)
Bisa bebas bergerak pada tempatnya oleh karena bola mata digerakkan oleh 6 macam otot lurik (muskuli Rektus) yaitu oleh :
1. Muskulus Rektus Medialis
2. Muskulus Rektus Lateralis
3. Muskulus Rektus Superior
4. Muskulus Rektus Interior
5. Muskulus Obligus Superior
6. Muskulus Obligus Interior
Bola Mata terbagi atas :
1. Polus anterior (sebatas lingkaran Kornea)
2. Polus posterior (sebatas lingkaran Sklera)
3. Sumbu Geometris (garis dari titik Sentralis Kornea dari titik sentralis Sklera)
4. Sumbu optik = Porus Visuil (garis dari untuk sentral pupil ke titik sentral Fovea Sentralis).

Dinding bola mata dibentuk oleh 3 macam lapisan (Tunika) yaitu :
1. Lapisan Fibrosa
2. Lapisan Vaskulosa
3. Nervosa
Lapisan fibrosa membentuk :
1. Kornea –anterior-
2. Sklera –posterior-
Lapisan vaskulosa membentuk :
1. Iris
2. Carpus Siliaris
3. Koroidea
Lapisan Nervosa membentuk
1. Retina pars optika
2. Retina pars seka :
- Retina pars siliaris
- Retina pars Iridika
LENSA
- Bentuk Bikonkaf, permukaan belakang lebih cembung, jernih, tembus cahaya
- Dilapisi kapsula lentis
- Lensa tergantung dan diikat oleh zonula zinii (serat-serat kolagen) antara corpus siliaris dan kapsula lentis
- Mekanisme akomodasi
KORPUS VITREUS
- Antara lensa dengan retina pars optikus diisi oleh jelly/agar-agar yang amarf, jernih, tembus cahaya/….. Humor vitreus)
- Fungsi : - menahan lensa pada tempatnya
- menahan …..pigmen retina pada tempatnya -> agar tidak lepas
- dapat di tembus cahaya
Media Refraksi Bola Mata
Meupakan bagian bola mata yang dapat di tembus oleh cahaya, yaitu :
1. Kornea
2. Humor Akwensi
3. Lensa
4. Korpas Vitreus
Cahaya dapat masuk mulai dari kornea sampai dengan Corpus Vitreus dan sampai ke lapisan retina.
Retinapars Optika.
Ada 10 lapis dari luar ke dalam sebagai berikut :
1. Lapisan sel pigmen
2. Lapisan sel batang dan kerucut
3. Lapisan membrana limitan eksterna
4. Lapisan Granular luar (lapisan inti luar)
5. Lapisan Fleksiform luar
6. Lapisan Granular dalam (lapisan inti dalam)
7. Lapisan Fleksiform dalam
8. Lapisan sel ganglion
9. Lapisan serat saraf
10. Lapisan membrana limitan interna.
Makula Lutea :
Cekungan kecil di retina pars optika dan di sentralnya ada fovea sentralis
Fovea Sentralis :
- Tempat melihat tajam, terang, membedakan warna.
- Lapisan ke-5 sampai dengan 9 terdorong ke pinggir, cahaya dari karpus vitreus langsung masuk ke fovea sentralis dan diterima sel foto reseptor dari sel kerucut.
- Pada fov. Sentralis lapisan retina yang ada unit fungsi berupa
- sel kerucut
- Neuron Bipoler
- sel ganglion
Pilla nerni Optici
Dibentuk N, optikus sebelum keluar dari bulbusokuli di dalamnya berjalan A/V, sentralis retina. Bagian ini tidak dilapisi retina, maka tidak dapat untuk melihat disebut blind spot (bintil buta)
Vaskularisasi bulbus okuli :
Mendapt darah dari A. Opthalmika, yang bercabang-cabang membentuk :
1. A. Sentralis Retina
2. A. Siliaris pasterior
3. A. Siliaris Anterior.


Telinga aka STATO ACUSTICUS/APARATUS VESTIBULO COCHLEARIS
• Alat mendengar –n. coclearis-
• Keseimbangan Tubuh – n. vestibularis-

 Secara Histo-Anatomi
o Telinga Luar
 Daun Telinga
 Liang Telinga
 Membrana Timpani
o Telinga Tengah
 Cavum Timpani
 Tuba eustachi
 Prosesus Mastoideus
o Telinga dalam
Terdiri dari  Labirin Tulang
Termasuk Vestibulum, sal. Sm sirkularis osseus, coclearis
 Labirin Membranosa
Termasuk utrikulus, saculus, sal. Sm sirkularis membrane, duktus
endolimfatikus, sakus endolimfatikus, duktus reuniens, ductus coclearis

Pada Coclearis terdapat :
1. Membrana Reisner
2. Membrana Basilaris
Bersama sama membentuk skala vestibularis, skala medika –duktus coclearis-, skala timpani

Fungsi Telinga sebagai alat pendengaran
1. Dengan sel organ corti
a. Sel tiang dalam
b. Sel tiang luar
c. Sel falangs dalam
d. Sel falangs luar
e. Sel rambut dalam
f. Sel rambut luar
2. N. Coclearis – Susunan Saraf Pusat
Fungsi Telinga sebagai pengatur keseimbangan
1. Melalui Makula
a. Utrikularis
b. Sakulus
2. Krista Ampularis
3. Nervus Vestibularis

Monday, March 9, 2009

Languange

Languange

Language is a means of transmitting and processing information, organizing sensory perceptions, and expressing thoughts, feelings, and intentions. The content of language encompasses the past, present, and future. The development of language does not necessarily require speech and audition: deaf-mutes learn to communicate with sign language. Language is most easily acquired in childhood. Linguistic messages are transmitted and received through speaking and hearing, writing and reading, or (in the case of sign language) the production and interpretation of gestures. The cerebral language areas are located in the left hemisphere in over 90% of right-handers and in 60% of left-handers; the remaining individuals have bihemispheric or (in 1–2%) exclusively right-hemispheric dominance for language. The left (dominant) hemisphere is responsible for the cognitive processing of language, while the right (nondominant)hemisphere produces and recognizes the emotional components of language (prosody = emphasis, rhythm, melody). Language is subserved by subcortical nuclei as well (left thalamus, left caudate nucleus, associated fiber pathways). Language function depends on the well-coordinated activity of an extensive neural network in the left hemisphere. It is simplistic to suppose that language is understood and produced by means of a unidirectional flow of information through a chain of independently operating brain areas linked together in series. Rather, it has been shown that any particular linguistic function (such as reading, hearing, or speaking) relies on the simultaneous activation of multiple, disparate cortical areas. Yet the simplified model of language outlined below (proposed by Wernicke and further elaborated by Geschwind) usually suffices for the purposes of clinical diagnosis.
Hearing and speaking. Acoustic signals are transduced in the inner ear into neural impulses in the cochlear nerve, which ascend through the auditory pathway and its relay stations to the primary and secondary auditory cortex (p. 100). From here, the information is sent to Wernicke’s area (the “posterior language area”), consisting of Wernicke’s area proper, in the superior temporal gyrus (Brodmann area 22), as well as the angular and supramarginal gyri (areas 39, 40). The angular gyrus processes auditory, visual, and tactile information, while Wernicke’s area proper is the center for the understanding of language. It is from here that the arcuate fasciculus arises, the fiber tract that conveys linguistic information onward to Broca’s area (areas 44 and 45; the “anterior language area”). Grammatical structures and articulation programs are represented in Broca’s area, which sends its output to the motor cortex (speech, p. 130). Spoken language is regulated by an auditory feedback circuit in which the utterer hears his or her own words and the cortical language areas modulate the speech output accordingly.
Reading and writing. The visual pathway conveys visual information to the primary and secondary visual cortex (p. 80), which, in turn, project to the angular gyrus andWernicke’s area, in which visually acquired words are understood, perhaps after a prior “conversion” to phonetic form. Wernicke’s area then projects via the arcuate fasciculus to Broca’s area, as discussed above; Broca’s area sends its output to themotor cortex (for speech or, perhaps, to the motor hand area for writing). This pathway enables the recognition and comprehension of written language, as well as reading out loud.
Examination. The clinical examination of language includes spontaneous speech, naming of objects, speech comprehension, speech repetition, reading, and writing. The detailed assessment of aphasia requires the use of test instruments such as the Aachen aphasia test, perhaps in collaboration with neuropsychologists and speech therapists. Disturbances of speech maybe classified as fluent or nonfluent. Examples of the former are paragrammatism (faulty sentence structure), meaningless phrases, circumlocution, semantic paraphasia (contextual substitution, e. g., “leg” for “arm”), phonemic paraphasia (substitution of one letter for another, e. g., “tan” for “can”), neologisms (nonexistent words), and fluent gibberish (jargon). Examples of the latter are agrammatism (word chains without grammatical structure), echolalia (repetition of heard words), and automatism (repeating the same word many times). Prosody and dysarthria (if present; p. 130) are evaluated during spontaneous speech. Anomia is the inability to name objects. Patients with aphemia can read, write, and understand spoken language but cannot speak.


Atlas Neurology





Neural Processing of Language
Language (in humans) is a learned form of communication with the external environment. It encompasses the sensory appreciation of symbols, their central interpretation, and the verbal or non-verbal expression of the symbols in a manner intelligible to others who have also learned the language. It is used for the expression of cognitive activity, which ranges in complexity from simple repetition of received language to the expression of thought processes. Language processing should not be confused with the expression of sounds that are semantically meaningless (such as a cough, or a baby’s gurgle, whichmay be a form of communication that expresses pleasure, but is arguably not language processing). At the momentwe have a very poor understanding of the neural processing of language, and virtually all information comes from observing the results of damage to brain areas (see p. 346). Language involves the processing of visual, auditory, and (as in the case of the blind) tactile inputs. Auditory inputs travel from the ear to the auditory cortex, and from there to the auditory association cortex in the angular gyrus. From the association areas, the signals are projected to Wernicke’s area, the left posterior part of the temporal lobe (Brodmann’s area 22), where comprehension of the inputs is effected.
The information is then projected to Broca’s area (Brodmann’s areas 44 and 45), where the semantic ‘dictionary’ is stored, and where the storedwords are assembled meaningfully. This information is sent to the frontal cortex and the premotor areas for associative motor processing prior to being sent to the motor cortex, where vocal and manual articulation are controlled, and the word is spoken or written.
Visual language inputs travel from the retina to the primary visual cortex, where electrical impulses are converted into raw visual information. This is projected to the adjacent extrastriate cortex for further processing, before it is sent to Broca’s area for assembly into grammatical form, and is projected from there to the prefrontal and premotor areas. There are thus independent pathways for the auditory and visual processing of language. Very little is known about how a tactile input is translated into language by the brain. These postulated pathways are undoubtedly vast simplifications, but they do explain why damage to Broca’s area still permits the understanding of language, even if it cannot be expressed. They also explain why the interruption of the arcuate fasciculus, which connects Wernicke’s area with Broca’s area, prevents the conversion of auditory language inputs into verbal expression of words. They do not take into account the fact that subcortical structures and cortical white matter are also involved in the processing of language. The left caudate nucleus, thalamus, and some interconnecting pathways in the left hemisphere participate in language processing. The pathways also do not explain the mechanisms whereby patients with severe damage to left hemisphere areas involved in speech are still able to sing and express sounds (including words) in melodic form. This process, called prosody, is more emotional than cognitive in performance, and is thought to be a function of the right hemisphere, which is more concerned with intuitive and nonreasoning cortical function.


Atlas Neurosciences

Tuesday, December 2, 2008

Rasa sakit dan bengkak pada lutut yang berulang-ulang

Seorang wanita 50 tahun, bertubuh gemuk, mengeluh lutut rasa sakit sesudah lama berjalan. Otot terasa kaku dan sendi membengkak. Dengan kompres panas dan minum obat ponstan agak menolong. Keluarga lain juga ada yang menderita sakit seperti ini. Pemerikasaan fisik dan laboratorium tidak dijumpai kelainan berarti. Radiologis dijumpai Herbberden’s nodes dan Bauchard’s nodes dengan adanya osteophytes dan kehilangan joint space.
Tugas:
Jelaskan fenomena keluhan pasien di atas berdasarkan kajian, pathogenesis, penatalaksanaan dan pencegahannya.


Anamnesis
Identitas: wanita 50 thn

Riwayat Penyakit sekarang:

keluhan Utama: Lutut sakit

Sacred 7
Location : lutut
Onset : berulang dan setiap aktivitas lama
Quality, Quantity, Severity :Otot kaku sendi bengkak
Modifying Factor: Kompres dan ponstan
Associated Symptoms: Nodes PIP and DIP, lost of Joint space, osteophytes

Tinjauan Sistem dan Umum : gemuk

Riwayat penyakit dahulu -
Riwayat kesehatan keluarga: + "
Keluarga lain juga ada yang menderita sakit seperti ini"
Riwayat kebiasaan pribadi dan sosial : -


Pemeriksaan fisik:
->Nodes of herbenden dan bauchard
-> bengkak sendi
-> kram otot


Lab test:
Radiologi osteophytes
lost of joint space pada DIP dan PIP

Tujuan Pembelajaran:
Mekanisme otot kaku
Mekanisme osteophytes
Mekanisme nodes herbenden dan bauchards
Epidemiologi dan Etiologi
Mekanisme kerja ponstan dan kompres panans
Penegakan diagnosis
Penatalaksanaan

1. Otot kaku
Withdrawal relfex -ganong section III, baca dong!!!-
rangsangan pada serabut afferent ke spinal dapat mempengaruhi rangsangan alpha dan gamma motorneurons yang berefek pada kontraksi otot, - peningkatan input noxi viscus abdominal akan meningkatkan tonus otot abdomen. contoh lain input noxi kapsul sendi meningkatkan “reflex excitability” dan beberapa otot-otot antagonis yang bersangkutan dengan pergerakan sendi tersebut sehingga hal ini dapat memblok sendi tersebut, disebut juga sebagai “neurogenic block”. Pengaruh yang paling besar berasal dari otak, stress dan emosi dapat mengakibatkan “descending excitatory pathways”, sehingga merangsang peningkatan reflek dari otot-otot postural.

2. osteophytes

Osteophytes dibentuk oleh tubuh pada saat melakukan perbaikan dengan membangun tulang ekstra karena berbagai faktor seperti karena tekanan, gesekan atau trauma berulang.

Beberapa bentuk 'bone spur' merupakan bagian proses penuaan Ketika bertambah tua, lapisan kartilago yang menutupi kepala dari tulang dan sendi biasanya rusak dan bahkan botak.


cape gw nulis... besok terusin lagi ah

Followers